membincangkan masa lalu
Barangkali kita sama-sama rindu perihal masa lalu. Diam-diam menyudut, menyepikan diri, padahal sekitar sedang ramai yang gemuruh.
Aku dan engkau barangkali mepersoalkan perihal yang sama. Soal itu-itu saja. Barangkali kau bertanya-tanya soal aku. Yang sibuk bermonolog sepanjang petang untuk menyuguhkan aksara. Atau kau bertanya soal rindu, yang selalu di sebut usai kita kehabisan persoalan. Atau pesan singkat yang sama-sama kita ciptakan ditengah detik yang membuat kita lupa cara tertawa. Tentunya, aku menyebut cara tertawa yang benar. Atau barangkali aku memang gila soal senyummu yang lucu bagai pelangi terbalik.
Aku bersamamu menjadi definisi absurd tidak berhingga. Kita bicara soal sebuah huruf-huruf yang menggila. Kau mengajarkanku mengeja seperti akulah bocah dungunya. Aku cuma bisa pura-pura melugu mengikuti gerak-gerikmu. Dan kubayangkan aku bocah sekolah dasar.
Kau ibarat rumah kapal laut. Sedangkan kita ada di samudera pasifik yang berpalung paling dalam. Sudah lewat segitiga bermuda pada masa lalu yang membawa kita. Kala aku dan engkau sama-sama berpegang dengan percaya--bahwa kapanpun engkau akan menyewa perahu, kau selalu akan pulang pada kapal laut kepunyaanmu.
Aku rindu perihal kita. Pada kegilaan yang kau ajarkan soal tawa. Atau pada suara kita yang memilukan, masih kusimpan diam-diam dalam keajaiban.
Barangkali engkau penasaran bagaimana magisnya tangan tuhan memberikan aku dan engkau ruang temu yang sama. Ruang temu yang kali ini sedang aku begitu rindu dengan pilu yang bahagia. Aku dan engkau memang sudah bukan di ruang yang sama, bukan ruang temu yang menyudutkan kita untuk dapat sekali lagi melakukan hal-hal gila setiap detiknya.
Tapi barangkali,
Aku dan engkau diminta tuhan, sekadar berpisah untuk belajar perihal merindukan, dan mempersiapkan.. lagi-lagi sebuah temu.
-
Cuma puisi. Sedang rindu jaman tk.
Komentar
Posting Komentar
Komentar?